Jumat, 26 April 2024

“Kita yang mencinta akhirnya Berpisah”

 

“Kita yang mencinta akhirnya Berpisah”

Puncak tertinggi dari patah hati adalah berserah diri kepada sang pencipta. Mengindahkan banyak kenangan dengan menulis adalah caraku untuk tidak melupakanmu. Karena melupakanmu tidak pernah menjadi pilihan hidupku yang sungguh-sungguh. Semakin aku mencoba melupakanmu semakin hancur hati dan perasaanku. Jatuh cinta saat dewasa sangat berbeda dengan jatuh cinta saat remaja. Jika masa remaja adalah masa untuk bersenang-senang, maka saat masa dewasa tiba adalah tentang cara berpikir maju, cara bertahan hidup kedepannya, bahkan aku mulai berpikir bagaimana kita bisa membersamai semua keadaan dan lebih banyak bahagianya dibandingkan sedihnya.

Tapi bagaimana bisa kita menjadi seperti ini?

Bukankah kita saling cinta?

Lantas mengapa kita berpisah?

Melepasmu aku tak bisa, tetapi berjalan bersamamu aku tak sanggup. Rasanya seperti berjalan di atas pecahan kaca yang sama-sama kita tebar di jalan berbunga yang sangat indah. Sungguh sakit rasanya ketika ku sadari. Masing-masing diri kita merasa yang paling tersakiti. Menurutku, kamu menyakitiku dengan semua kata indah yang tidak aku tau kebenarannya. Dan menurutmu, aku menyakitimu dengan semua sikap kasarku, dengan tidak pengertiannya aku, seberapa besar rasa sayang kamu kepadaku, dan sebesar apa pengorbananmu yang tidak pernah ku hargai.

Empat tahun bersama bukan waktu yang sebentar. Tapi selama itu pula aku tidak pernah mengekspresikan sebesar apa rasa sayangku kepadamu, seberapa banyak cinta yang sudah ku tabung untuk kamu, untuk nantinya ingin aku curahkan disaat yang tepat. Setelah berpisah seperti ini, aku sadar ternyata bagaimanapun cara kita berpisah akhirnya aku tetap saja berdoa untuk kebaikan kita berdua. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan bertemu perempuan baik yang bisa mengerti dan menerima semua keadaan kamu dan keluargamu. Jika nanti kamu bertemu perempuan yang segitu besarnya rasa cinta dia ke kamu, percayalah dia akan menerima kamu dan memeluk semua kekuranganmu.

Maafkan aku tidak bisa memelukmu dengan erat. Aku takut akan membuatmu sesak. Sekarang aku memilih untuk melepas pelukan itu dan tidak menggenggam tanganmu lagi agar kamu bisa terlepas dari semua sesak yang aku beri. Agar kamu bisa mengekspresikan diri kamu seperti yang kamu mau. Agar kamu bisa lebih bahagia lagi nantinya.

Jika membersamaimu hanya memberikan luka, bukankan sudah sepantasnya aku merelakanmu saja?

Terakhir, aku sampaikan semua rasa terimakasihku atas semua hal baik yang telah kamu berikan. Terimakasih atas semua waktu dan tenaga yang telah kamu curahkan untuk menemani masa-masa terpuruk ku. Semoga kamu bisa memaafkan semua kekurangan dan kesalahanku selama ini. Aku harap Allah SWT selalu melindungi kamu dimanapun kamu berada. Semoga kamu Bahagia dengan jalan yang kamu pilih.

Dari aku, untuk kita yang pernah saling cinta 😊

Musi Rawas, 2024.

-AF-