Hari itu, jum’at yang
berkah. Di bawah rimbunnya pohon, berkumpul dan
bercanda tawa dengan teman-teman sembari mengobrol tentang kegiatan
sehari-hari. Betapa lelahnya hari yang telah kami lewati. Tapi biarlah, biarkan lelah ini menjadi bukti perjuangan kami selama kami bersekolah disini. Meskipun hari ini melelahkan, tetap saja indahnya hari ini
sudah pasti lebih indah dari hari kemarin. Sama seperti kata-kata bijak yang
sering diucapkan banyak orang ”hari
ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari
ini”, kata-kata yang memotivasi banyak orang agar menjadi baik, lebih baik,
dan lebih baik lagi dari sebelumnya.
Pagi itu aku disambut ceria
dengan sebuah senyuman, senyum yang selalu ingin didapatkan oleh kebanyakan insan
yang sedang kasmaran di dunia ini. Senyum yang memanjakan hati ini, yang
membuat matahari tersenyum bahkan burung-burung mendekat dan berkicau ria saat
melihat senyum itu, membuat pagiku menjadi lebih bersemangat dan lebih berarti.
Tersenyum kecil bibir ini,
malu untuk mengungkapkan bahwa diri ini bahagia telah menerima senyum itu.
Andai kau tau bahwa hati ini ikut tersenyum, bahkan senyum itu jauh lebih lebar
dari senyum kecil yang terbentuk dari bibirku ini, seperti perbandingan pada
peta yang 1:10000. Berdetak kencang hati ini seperti ada seorang drummer
profesional hebat yang memainkan drumnya dengan sangat baik yang berhasil
membuat penonton bertepuk tangan gemuruh. Sulit untuk dijelaskan perasaan macam
apa ini (?).
Selalu ku ingat dengan jelas
senyum itu, caramu tersenyum padaku, bagaimana bentuk lekungan bibir yang kau
bentuk itu, selalu teringat dalam benakku bagaimana indahnya senyuman itu.
Terkadang caramu menatapku menghipnotis diri ini, seakan aku terhanyut dalam
derasnya ombak yang menerpa dan membuatku sulit untuk bernapas.
Setiap saatnya, tersenyumlah
kau seperti itu. Biarkan aku menikmati indahnya senyum itu. Izinkanlah, izinkan aku menikmati senyum manismu itu.