Puncak tertinggi dari patah hati adalah
berserah diri kepada sang pencipta. Mengindahkan banyak kenangan dengan menulis
adalah caraku untuk tidak melupakanmu. Karena melupakanmu tidak pernah menjadi
pilihan hidupku yang sungguh-sungguh. Semakin aku mencoba melupakanmu semakin
hancur hati dan perasaanku. Jatuh cinta saat dewasa sangat berbeda dengan jatuh
cinta saat remaja. Jika masa remaja adalah masa untuk bersenang-senang, maka saat
masa dewasa tiba adalah tentang cara berpikir maju, cara bertahan hidup
kedepannya, bahkan aku mulai berpikir bagaimana kita bisa membersamai semua
keadaan dan lebih banyak bahagianya dibandingkan sedihnya.
Tapi bagaimana bisa kita menjadi seperti
ini?
Bukankah kita saling cinta?
Lantas mengapa kita berpisah?
Melepasmu aku tak bisa, tetapi berjalan
bersamamu aku tak sanggup. Rasanya seperti berjalan di atas pecahan kaca yang
sama-sama kita tebar di jalan berbunga yang sangat indah. Sungguh sakit rasanya
ketika ku sadari. Masing-masing diri kita merasa yang paling tersakiti. Menurutku,
kamu menyakitiku dengan semua kata indah yang tidak aku tau kebenarannya. Dan
menurutmu, aku menyakitimu dengan semua sikap kasarku, dengan tidak
pengertiannya aku, seberapa besar rasa sayang kamu kepadaku, dan sebesar apa
pengorbananmu yang tidak pernah ku hargai.
Empat tahun bersama bukan waktu yang
sebentar. Tapi selama itu pula aku tidak pernah mengekspresikan sebesar apa
rasa sayangku kepadamu, seberapa banyak cinta yang sudah ku tabung untuk kamu,
untuk nantinya ingin aku curahkan disaat yang tepat. Setelah berpisah seperti
ini, aku sadar ternyata bagaimanapun cara kita berpisah akhirnya aku tetap saja
berdoa untuk kebaikan kita berdua. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan bertemu
perempuan baik yang bisa mengerti dan menerima semua keadaan kamu dan
keluargamu. Jika nanti kamu bertemu perempuan yang segitu besarnya rasa cinta
dia ke kamu, percayalah dia akan menerima kamu dan memeluk semua kekuranganmu.
Maafkan aku tidak bisa memelukmu dengan
erat. Aku takut akan membuatmu sesak. Sekarang aku memilih untuk melepas
pelukan itu dan tidak menggenggam tanganmu lagi agar kamu bisa terlepas dari
semua sesak yang aku beri. Agar kamu bisa mengekspresikan diri kamu seperti
yang kamu mau. Agar kamu bisa lebih bahagia lagi nantinya.
Jika membersamaimu hanya memberikan
luka, bukankan sudah sepantasnya aku merelakanmu saja?
Terakhir, aku sampaikan semua rasa
terimakasihku atas semua hal baik yang telah kamu berikan. Terimakasih atas
semua waktu dan tenaga yang telah kamu curahkan untuk menemani masa-masa
terpuruk ku. Semoga kamu bisa memaafkan semua kekurangan dan kesalahanku selama
ini. Aku harap Allah SWT selalu melindungi kamu dimanapun kamu berada. Semoga
kamu Bahagia dengan jalan yang kamu pilih.
Dari aku, untuk kita yang pernah saling
cinta 😊
Musi Rawas, 2024.
-AF-