Kamis, 08 Desember 2016

Sebuah Rasa

Aku hanyalah remaja yang kini sedang beranjak menuju dewasa. Seorang wanita yang pada umumnya sama saja seperti kebanyakan anak remaja lainnya. Jatuh cinta sebanyak beberapa kali, patah hati sebanyak itupun juga. Menyukai lelaki sesuka-sukanya, lalu merasakan sakit hati sesakit-sakitnya. Membuka hati untuk satu lelaki kemudian hati itu terluka, lalu beradaptasi lagi dengan cinta yang lain dan mulai membuka hati itu lagi. Memberikan kepercayaan, mencoba untuk jujur dan serius dalam menjalankan hubungan. Aku pernah memberikan hati untuk seorang pria baik yang ku kenal. Kemudian menjalani hubungan sebaik-baiknya, sewajar-wajarnya, dan senormal-normalnya seorang laki-laki dan perempuan pada umumnya kemudian kami menyebutnya 'pacar-an'. Satu dua tahun terlewati, tiga empat tahun tak sampai :D yah begitulah.
Mencoba membuka hati (lagi) untuk orang lain, berusaha jatuh cinta lagi dan tetap saja sama. Patah hati lagi yang dirasakan. Tiga empat bulan berlalu, tujuh delapan bulan terlewati, satu dua tahun hingga sekarang sudah ku lewati semua episode-episode hidup ini sendirian. Sudah masuk pada tahun ke dua dan aku terlalu sibuk dengan kesendirian ku hingga aku lupa bagaimana caranya membuka hati untuk beberapa pria yang sempat singgah dan mengisi hari-hariku selama itu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk memberikan goresan kecil di hati kalian ataupun menyakiti perasaan kalian lebih dari itu. Hanya saja hati ini belum siap untuk menerima hati lain yang ingin masuk kedalamnya.
Tapi anehnya saat ini hatiku terbuka sendiri secara alami. Seolah ada hati lain yang aku inginkan, seakan aku ingin menarik sebuah hati yang tidak aku ketahui punya siapa itu. Apa maksud dan kepada siapa aku ingin memberikan hati ini. Yang aku tahu hanyalah aku sedang 'dilema' dengan perasaan ini. Rasa seperti apa yang sedang aku rasakan ini. Harus seperti apa aku nanti kedepannya. Bagaimana aku harus bersikap di depan hati itu nanti? Haruskan aku menunjukkan rasa ini? Ataukah aku masih akan tetap seperti dulu? Membiarkan rasa seperti ini ku pendam sendiri dan lebih memilih untuk menceritakan tentang hati itu ke dalam tulisan-tulisan seperti ini. Ataukan melukiskannya pada setiap anggan ku? Menyebut namanya di dalam hati agar tidak ada yang tahu tentang perasaan ini. Tetap merahasiakannya sebelum ada kepastian dari hati itu? Tenang saja, aku seseorang yang pandai menyembunyikan perasaanku. Entah itu di depan 'mu' ataupun di depan mereka, 'orang lain'.
Milik siapa hati itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar